RBT… Oh RBT… [Sekedar Keluh Kesah]
Posted: October 25, 2011 Filed under: blah blah blah | Tags: analisa awam, article, artikel, berbagi, blog, catatan harian, cerita, lain-lain, miscellaneous, music, musik, opini, personal, rbt, renungan, umum, web, wordpress 1 Comment »
WARNING: THE CONTENT OF THIS POST IS HIGHLY SUBJECTIVE AND CANNOT BE USED AS A REFERENCE
“Kemarin sudah dilarang kok, tapi sekarang peraturannya direvisi. Banyak yang protes,” katanya. Well, RBT alias Ring Back Tone memang dilematis. Di satu sisi format baru distribusi musik ini menghidupkan lagi industri musik di tanah air yang sempat diguncang maraknya pembajakan. Di sisi lain, RBT juga yang membuat industri musik tanah air jadi mati suri. Saya sendiri, secara pribadi, lebih suka kalau RBT dihapuskan dari muka bumi, setidaknya untuk sementara waktu.
Saya memang bukan pengamat musik profesional. Saya juga tidak paham alur kerja industri musik di Indonesia. Saya hanya penikmat musik yang kecewa lantaran kualitas musik yang dihasilkan anak negeri cenderung menurun belakangan ini. Mungkin kedengarannya seperti mengagung-agungkan masa lalu. Tapi coba kita lihat lebih dalam apa yang terjadi di panggung musik bumi tercinta ini. Jumlah band dan musisi bertambah pesat. Jumlah lagu yang dihasilkan pun bertambah banyak. Apakah kualitas lantas berbanding lurus? Sepertinya tidak.
Rasanya, setiap saya nonton televisi, selalu saja ada band baru yang muncul. Saya bahkan sampai tidak ingat lagi nama-nama mereka. Saya memang bukan konsumen tetap musik Indonesia tapi bukan berarti saya anti produk Indonesia. Kalau kita menengok ke belakang, dulu jumlah band atau penyanyi tidak sebanyak sekarang. Kalaupun sempat ada banjir band rock di era 1980-an, itu pun tak berumur lama karena seleksi alam bakal menyentil mereka keluar dari panggung musik. Yang tersisa hanyalah mereka-mereka yang sanggup memberikan produk berkualitas.
Iwan Fals, Dewa 19, Slank, Nicky Astria, Ruth Sahanaya, Gigi, dan KLA Project, adalah sebagian kecil dari nama-nama yang layak dibanggakan. Produk mereka memang berkualitas karena untuk mencapai status sebagai musisi yang dikenal publik bukanlah usaha yang mudah. Saya masih ingat waktu saya dibuat terkagum-kagum oleh soundtrack film Badai Pasti Berlalu versi pertama. Liriknya puitis dan indah sementara nada yang dilantunkan pun bukan sekedar perpaduan nada. Hal yang sama terjadi saat saya mendengarkan lagu-lagu KLA Project.
Sekarang aturan mainnya berganti. Image jadi sesuatu yang sangat penting. Teknik bermusik rasanya sudah tidak terlalu penting lagi, buktinya beberapa teman yang masih aktif main musik bilang kalau lagu sekarang lebih mudah ditirukan ketimbang lagu-lagu lawas. Why? Entahlah. Mungkin sekarang pertimbangannya, sebuah lagu harus mudah dicerna kuping, gampang ditirukan, dan gampang dilupakan. Soalnya giliran band lain buat jadi artis sudah ada dalam schedule.
Rumornya, label sekarang mematok aturan 30 detik [citation needed]. Konon, kalau dalam satu lagu ada bagian berdurasi 30 detik yang sangat catchy, itu sudah cukup buat label untuk mengorbitkan lagu tadi. Kenapa? Jawabnya jelas untuk RBT. Catatan penjualan album atau single mungkin sudah tidak terlalu digubris lagi. Yang penting jumlah penjualan RBT tinggi, itu sudah cukup. Kabarnya lagi, RBT ini juga yang jadi sumber penghasilan terbesar para musisi. Akibatnya, musik dianggap sebagai ladang basah dan semua orang berlomba-lomba menjadi musisi.
Apa yang bisa diapresiasi dari 30 detik tadi? Nyaris tidak ada. Lagu adalah satu bagian utuh mulai dari intro sampai akhir. Menilai lagu hanya dari refrain saja, sama artinya menilai film hanya dari trailernya. Saya setuju dengan pendapat Pink Floyd yang menggugat Amazon lantaran situs ini menjual lagu mereka secara eceran. Buat Pink Floyd satu album adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ini sisi edukatif.
Musisi juga punya tanggung jawab untuk memberikan edukasi pada publik. Publik musik era 1980-an memang sangat selektif karena musik-musik yang mereka dengar punya bobot lebih. Jadi rasanya wajar kalau saat itu musik-musik melankolis jadi bulan-bulanan karena dianggap tidak berbobot. Sekarang saya tidak pernah lagi mendengar orang berkomentar soal kualitas musik. Kalaupun ada yang dicaci maki, paling juga soal image mereka. Bukan musiknya.
Kembali ke soal RBT. Seandainya RBT benar dihapuskan, maka bisa jadi para musisi mengalami masa paceklik. Pemasukan menurun drastis. Dampaknya, masyarakat tak lagi melihat musik sebagai ladang basah untuk mengumpulkan harta. Yang tersisa akhirnya hanya orang-orang yang total di dunia musik. Pamor musisi yang punya idealisme bakal kembali naik dan dampaknya, musik yang beredar pun musik-musik berkualitas. Karena dijejali musik berkualitas, tingkat apresiasi masyarakat pun bakal naik. Lagu-lagu yang tak berkualitas bakal tersingkir dengan sendirinya. Ini kondisi yang saya impikan.


I\’ve provide look at the full blogg and then As I gotten the Inspiration of Your actual good blogg and also I actually come with certainly book mark it hooked on via the internet added web site and will see it in the near future. I have a blogg could you give me some reviews please